Kewajiban memang senantiasa berimpit dengan hak. Karena itu, jangan sampai selalu bicara hak tapi melupakan kewajiban. Begitu pula sebaliknya--Sudijono.

Reuni Menwa Mahakarta

Reuni Alumni Menwa Mahakarta, se-Jabotabek, Banten dan Jawa Barat, Anjungan Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah.

Reuni Menwa Mahakarta

Reuni Alumni Menwa Mahakarta, se-Jabotabek, Banten dan Jawa Barat, Anjungan Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah.

Reuni Menwa Mahakarta

Reuni Alumni Menwa Mahakarta, se-Jabotabek, Banten dan Jawa Barat, Anjungan Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah.

Reuni Menwa Mahakarta

Reuni Alumni Menwa Mahakarta, se-Jabotabek, Banten dan Jawa Barat, Anjungan Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah.

Reuni Menwa Mahakarta

Reuni Alumni Menwa Mahakarta, se-Jabotabek, Banten dan Jawa Barat, Anjungan Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah.

Kursus Kader Pembinaan Mental Nasional

Resimen Mahasiswa satuan 811 "Wira Cakti Yudha" UIN Maliki Malang mengadakan kegiatan Kursus Kader Pembinaan Mental Nasional (Suskabintalnas) bagi Resimen Mahasiswa se-Indonesia, yang akan dilaksanakan pada tanggal 17-22 Oktober 2011 di Dodik Kejuruan Rindam V/Brawijaya.

Kursus Kader Pelaksana Tingkat Nasional (Suskalaknas) TA 2011

Komando Nasional Resimen Mahasiswa Indonesia kembali akan menyelenggarakan kegiatan Kursus Kader Pelaksana Tingkat Nasional (Suskalaknas) TA 2011.

Kejuaraan Menembak antar Satuan MENWA

Komando Resimen Mahasiswa Batalyon II/Universitas Padjadjaran mengadakan Kejuaraan Menembak antara satuan Menwa se-Indonesia.

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, November 04, 2011

Bung Karno dan Resimen Mahasiswa

Pada sekitar awal tahun 1960, Bung Karno melakukan kunjungan kerja ke Bandung untuk menyampaikan kuliah umum kepada para Mahasiswa Bandung di halaman depan Kampus ITB Jl. Ganesha.

Setiba di Lapangan Udara Andir (Husein Sastranegara) Presiden/Panglima Tertinggi Soekarno disambut oleh Penguasa Perang Daerah/Panglima Kodam VI Siliwangi Kol. R.A. Kosasih. Setelah menyalami para penyambutnya kemudian Presiden dipersilakan untuk memeriksa Pasukan Jajar Kehormatan bersenjata dengan sangkur (penghormatan senjata dengan pasang sangkur menurut ketentuan hanya diberikan kepada Sang Saka Merah Putih dan Presiden RI). Dengan didampingi oleh Pangdam Siliwangi, Presiden/Panglima Tertinggi diiringi Korps Musik memeriksa Pasukan Jajar Kehormatan yang memberikan penghormatan militer. Setelah itu, sebelum memasuki mobil yang akan mengantarnya ke Kampus ITB, Presiden bertanya kepada Panglima: "Kos, itu tadi pasukan dari mana, kok enggak pakai tanda pangkat?". Pak Kosasih menjawab: "Itu tadi adalah pasukan Resimen Mahasiswa yang sedang dipersiapkan untuk membantu "Operasi Pagar Betis" menumpas gerombolan DI/TII Kartosuwirjo".

Kemudian kepada Kol. R.A. Kosasih, Bung Karno berpesan agar dibina dengan baik karena mereka adalah calon-calon pemimpin. Diantara anggota Resimen Mahasiswa tersebut yang di kemudian hari menjadi tokoh nasional adalah Ir. Siswono Yudo Husodo.

Ketika PKI (Partai Komunis Indonesia) gagal membentuk Angkatan V (Buruh dan Tani yang dipersenjatai) karena ditentang oleh TNI (Menpangad Jend. Ahmad Yani), D.N. Aidit mengadu ke Bung Karno sambil mengajukan protes mengapa TNI diijinkan membangun Resimen Mahasiswa, sambil menunjukkan Radiogram Menko Hankam/Kasab No. AB/3046/64 tertanggal 21 April 1964 yang ditujukan kepada semua Panglima Daerah untuk membentuk dan menyeragamkan Resimen Mahasiswa yang ada di setiap Kodam.

Karena yang menandatangani Radiogram tersebut adalah Jend. A.H. Nasution sendiri, maka Pak Nas dipanggil oleh Bung Karno untuk klarifikasi. Kepada Bung Karno, Pak Nas menjelaskan tentang maksud dan tujuan Radiogram tersebut yakni:
  1. Menertibkan dan menyatukan bermacam-macam Resimen Mahasiswa yang timbul sebagai akibat adanya Instruksi Menteri PTIP Nomor 1 Tahun 1962 tanggal 15 Januari tentang Pembentukan Korps Sukarelawan di lingkungan Perguruan Tinggi dalam rangka Trikora Pembebasan Irian Barat.
  2. Sebagai titik awal untuk merintis Program Pendidikan Perwira Cadangan melalui Perguruan Tinggi (ROTC: Reserve Officer Training Corps).
  3. Dalam upaya melestarikan tradisi semangat bela negara dan patriotisme di kalangan intelektual muda seperti yang telah dibuktikan dalam perang kemerdekaan oleh Tentara Pelajar/Corps Mahasiswa.
Sebelum meninggalkan Istana, Pak Nas bertanya kepada Bung Karno, bagaimana kelanjutannya untuk mengikuti petunjuk Beliau. Jawaban Bung Karno amat singkat: "Teruskan!".

Sebagai akibat "instruksi" Presiden maka muncullah Resimen-Resimen Mahasiswa di setiap Kodam. Di Jawa Barat, Menteri PTIP Prof. Toyib Hadiwijaya memberi nama "Resimen Mahawarman". Di Jakarta Pak Nas memberi nama "Resimen Mahajaya". Di Yogyakarta Jenderal Ahmad Yani memberi nama "Resimen Mahakarta" dan seterusnya.

Di akhir tahun 1965, terdesak oleh demonstrasi-demonstrasi mahasiswa yang tergabung dalam KAMI dan terpengaruh oleh siaran Radio Australia yang menyiarkan berita bahwa TNI akan menggerakkan Resimen Mahasiswa, D.N. Aidit kembali mengadu ke Bung Karno di Istana dengan permintaan agar Bung Karno sesegera mungkin membubarkan Resimen Mahasiswa yang "ternyata" adalah tentaranya Nasution yang dibiayai oleh CIA. Ternyata setelah itu Bung Karno tidak membubarkan Resimen Mahasiswa tetapi malah membubarkan KAMI, bahkan HMI pun tidak dibubarkan.

Kisah-kisah tersebut dikisahkan sendiri oleh alm. Letjen. TNI. (Purn) R.A. Kosasih kepada Tjipto Soekardono sewaktu Tjipto Soekardono menjabat sebagai Kepala Staf Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat pada tahun 1970.

Dahulu di Jawa Barat, anggota Resimen Mahasiswa sebelum menerima penyematan baret pada acara pelantikan, harus terlebih dahulu mengucapkan atau bersumpah yang disebut "Panca Dharma Satya Resimen Mahasiswa".

Panca Dharma Satya mengandung lima nilai kesetiaan, yakni:
  1. Setia kepada Sang Saka Merah Putih.
  2. Setia kepada Pancasila.
  3. Setia kepada Konstitusi (UUD 1945).
  4. Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  5. Setia kepada cita-cita dan nilai-nilai kejuangan Bangsa Indonesia.
Menurut Pak Sutikno Lukitodisastro (mantan Sekretaris Militer Presiden), Panca Dharma Satya itulah yang membuat Bung Karno tidak mau membubarkan Resimen Mahasiswa karena menganggap Resimen Mahasiswa merupakan salah satu wujud dari Nation and Character Building.

Kiriman:
Tjipto Soekardono
Gedung Juang 45
Jl. Menteng Raya 31 Jakarta Pusat

Jumat, Oktober 28, 2011

Menjemput Mbah Maridjan

Proses Evakuasi Korban Erupsi Merapi
Ponselku tiba - tiba berdering, teman saya Bobby seorang video journalist dari Al Jazeera memberi kabar. “Saya sudah di Jogja, sekarang sudah diatas, dekat rumah mbah Maridjan”, katanya agak terburu-buru. Sore itu, hari selasa, tanggal 26 Oktober 2010, pukul 16.00 wib saya berada di Ringroad utara depan monument Jogja Kembali, hujan sangat lebat. Saya terdampar disebuah rumah makan bersama Kinanti, anaku yang masih berumur 5 tahun kala itu. Saya mencoba melihat ke utara, semua gelap, hujan lebat membatasi pandangan saya. Kembali saya hanya bisa menunggu hujan mereda.

Kembali Bobby menelpon saya, “Mas, awan panas besar sekali, hujan batu dan pasir, saya meluncur turun mas”, katanya sangat panik. Saya terhenyak, perasaan saya campur aduk. Segera saya bergegas pulang, meski hujan sangat lebat. Saya harus naik ke Kinahrejo segera, perintah hati itu terus terucap di batin saya sepanjang perjalanan pulang menuju rumah.

Segera saya klik on pesawat radio yang terpasang di rumah, saya putar beberapa frekuensi yang berhubungan dengan Merapi, semua krodit, beritanya simpang siur. Segera  saya memacu sepeda motor, 15 menit kemudian saya sudah berada di pertigaan Balai Desa Umbulharjo. Kepanikan luar biasa terlihat ratusan orang yang ada disana.

Saya bertemu dengan Tonden, seorang pecinta alam senior Yogyakarta yang punya kedekatan khusus dengan Mbah Maridjan. Saya juga bertemu dengan Capung, bos dari Komunitas Lereng Merapi (KLM). Saya melihat kedua orang ini cukup panik. “Pey, Kinahredjo chaos, tidak ada orang diatas. Kita harus naik keatas”, ujar Capung kepada saya.

Mobil double cabin, milik Cahyo Alkantana menjemput kami. Selain saya, Capung dan Tonden ada beberapa teman yang ikut bersama kami, termasuk Iqbal anggota Kapakata yang sudah sekian tahun tidak bertemu. Juga ada Arbow, wartawan foto Tempo yang kebetulan bertemu di pertigaan Balai Desa Umbulharjo.

Perjalanan 10 menit itu cukup menegangkan, debu ada dimana-mana, pohon bertumbangan, rumah-rumah penduduk kosong ditingggalkan pemiliknya. Perjalanan kami terhambat pohon besar yang tumbang diatas pertigaan Ngrangkah. Team chainsaw mencoba memotong untuk membuka jalur ambulance masuk Kinahredjo.

Saya terus berjalan,  dibalik pohon saya menemukan jenazah di dekat sebuah motor, pikirku orang ini mencoba melarikan diri namun keburu awan panas menyergapnya. Saya tercekat, Kinahredjo porak poranda, api terlihat dimana-mana. Teriakan minta tolong sayup-sayup terdengar dari berbagai penjuru Kinahredjo.

Kami terus bergerak, debu tebal dan kondisi panas tidak menghalangi langkah saya. “Evakuasi yang hidup… Evakuasi yang hidup”, teriak saya berulang-ulang. Dengan inisiatif masing-masing kami menyelinap di antara rumah-rumah penduduk, mencari orang-orang yang harus diselamatkan.

Teriakan-teriakan penduduk terus terdengar, saya sudah berada di perempatan kecil menuju rumah Mbah Maridjan. Ditempat inilah kami bersepakat untuk mengumpulkan orang-orang yang berhasil kita evakuasi. Saya berlari menuju jalur arah kiri, terdengar suara teriakan lemah sekali. Saya menemukan seorang ibu mendekap anaknya, umurnya kira-kira 2 tahun.

Saya mencoba melepasnya, anak itu sudah meninggal dunia. Segera saya mengambil tindakan untuk melakukan evakuasi terhadap si ibu, pakaianya terbakar, tak ada benang sedikitpun yang melekat ditubuhnya. Dengan segala upaya saya angkat tubuh si Ibu, dia menjerit kesakitan, dia terus menangis. “Anakku yo kudu ditulung (Anak saya juga harus ditolong)”, ucapnya berulang-ulang.

Ketika sampai di perempatan, Si Ibu terus menangis, mencari-cari anaknya. “Aku ra gelem pisah, anakku endi (Saya tidak mau pisah, anakku mana)”, suaranya terbata-bata ditengah tangisannya. Saya kemudian kembali berlari kearah si anak, saya gendong anak itu. Saya sempat jatuh tersungkur tersandung kabel listrik. Sesampai di perempatan, saya tidak menemukan si ibu itu lagi karena sudah dievakuasi kebawah. Saya memandang wajah si anak, saya meneteskan air mata. Saya menyadari bahwa seorang ibu mestinya tidak bisa dipisahkan dari anaknya, dengan alasan apapun.
***

Proses evakuasi terus berlangsung, dengan peralatan seadanya. Kami menemukan sebuah almari penuh dengan tumpukan jarik, saat kantong mayat dan tandu tidak tersedia kami menggunakan jarik ini sebagai tandu darurat. Saya hitung, 12 orang berhasil kita bawa turun menuju pertigaan Ngrangkah, tempat paling atas yang bisa diakses ambulance waktu itu.

Tidak sengaja saya bertemu dengan Lik Udi, kondisinya tubuhnya terbakar hebat. “Tulungi simbah (Mbah Maridjan), mau mlebu neng omahe”, ucapnya lirih. (Tolong bantu simbah, tadi beliau masuk ke rumahnya). Saya menghela nafas panjang, saya mencoba melihat kearah rumahnya, tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Kembali saya bertemu dengan Tonden, dia membisikan, “Kita harus masuk ke rumah simbah, sekarang”, ucapnya emosional. Kemudian datang Capung, Prist dan Irfan, kita melakukan koordinasi singkat. Saya sampaikan kalau memang kita akan masuk ke kompleks rumah mbah Maridjan, yang harus kita lakukan adalah membuat exit way sambil saya menunjuk ke utara. Semua mendongak melihat Gunung Merapi, waktu itu bagian puncak merah membara.

Akhirnya kita berlima sepakat untuk menuju kompleks rumah mbah Maridjan, saya melihat Tonden orang yang paling emosional, dia teriak memanggil simbah, dia mengucapkan salam secara terus menerus. Saya menyadari betul kondisi ini. Ketika letusan Gunung Merapi tahun 2006, Tonden adalah orang yang menemani simbah hingga 6 bulan di Kinahredjo.

Kami semua berhenti di sebuah mobil APV di depan rumah simbah, saya perhatikan mobil ini dalam kondisi terbuka pintu-pintunya. Radio dalam mobil masih menyala, saiaranya tidak begitu jelas. Dibelakang mobil ini saya menemukan satu jenazah tergeletak. Saya periksa tas yang dia bawa, ada tiket pesawat Sriwijaya Air, dari Jakarta tujuan Yogyakarta atas nama Juniawan Wahyu Nugroho, tertera tanggal keberangkatan 26 Oktober 2010 pukul 13.26 wib. Belakangan saya tahu orang ini adalah jurnalis Vivanews.com yang sedang melakukan peliputan erupsi Gunung Merapi.

Berturut-turut kita menemukan 3 jenazah di rumah mbah Maridjan, di sekitar dapur, di dekat ruang gamelan dan di warung Yu Panut. Salah satu dari ketiga orang ini adalah Tutur, relawan dari PMI Bantul. Saya kemudian menelpon Komandan SAR DIY, Brotoseno. Saya melaporkan jika sudah berada di depan rumah Mbah Maridjan. Dalam komunikasi ini, saya melaporkan jika Mbah Maridjan belum ditemukan dan rumah dalam kondisi rusak parah.

Asih kemudian mendatangi kami, asih adalah putera mbah Maridjan, saat ini beliau menggantikan orangtuanya menjadi juru kunci Gunung Merapi. Asih datang dengan membawa ubo rampe sesaji termasuk dua ekor kambing warna hitam, titipan Kraton Yogyakarta. Ketika itu kita berangkulan, asih menangis melihat kondisi ini. Sedetik kemudian kita semua bersolawatan.

Kita terus melakukan pencarian, rumah Mbah Maridjan, Masjid al Amin Kinahredjo, kompleks makam, benar-benar nihil. Pada saat inilah Komandan SAR DIY, Nande dan Punpun bergabung dengan kami, kita berdiskusi tentang kemungkinan keberadaan Mbah Maridjan. Ditengah diskusi ini kami sempat diusir polisi berpangkat Kombes, kami tetap bergeming. 1 jam kemudian, akhirnya kita sepakat untuk turun dan berkoordinasi di rumah Yudha di daerah Pangukrejo, sekitar 1 km arah bawah Dusun Kinahredjo.

Di rumah Yudha inilah kemudian disepakti untuk membentuk sebuah operasi penyelamatan. Dipimpin Komandan SAR DIY, sepakat ditunjuk Capung sebagai komandan operasi dengan target Mbah Maridjan. Dibagi menjadi dua SRU (Search and Rescur Unit), unit terkecil dari sebuah operasi SAR. Satu SRU menyisir bagian atas dengan target 9 orang dan satu SRU menyisir kompleks rumah mbah Maridjan. Team penyelemat akan diberangkatkan pukul 04.00 wib keesokan harinya. Pemilihan jam ini dipercaya lebih efektif karena kita bisa melihat Gunung Merapi dengan lebih jelas diwaktu pagi hari.

Ditengah-tengah koordinasi ini kami memperoleh kabar jika Mbah Maridjan telah ditemukan dalam kondisi lemas di sebuah lereng bukit oleh anggota TNI AL. Namun jika melihat kronologisnya kami tetap percaya simbah belum diketemukan, dasarnya adalah kami adalah team yang berada di paling atas dan tidak menjumpai anggota TNI AL ikut operasi penyelamatan.

Malam itu saya sempat menghubungi istri saya, saya infokan jika saya sudah turun dari Kinahredjo dan akan melanjutkan operasi keesokan harinya. Dari istri saya inilah saya mendapat kabar jika dicari dua orang journalist TV nasional. Kemudian saya berkomunikasi dengan keduanya, diujung telepon, Angga contributor TVOne Wilayah Yogyakarta mengatakan, “Mas, saya minta gambar evakuasinya”, ujarnya.

Saya katakan, jika saya tidak mengambil gambar karena alasan tehnis pencahayaan, meski saya membawa handycam. Apalagi saya juga tidak tega melihat team evakuasi minim dengan tenaga,  sementara saya merekam aktifitas teman-teman. Dari perbincangan itu, kemudian saya memberi info jika Mbah Maridjan belum ditemukan dan akan kita cari keesokan harinya. Akhirnya kita sepakat untuk menjemput kameraman TVOne di depan Bali Desa Umbulharjo.

Ketika berjumpa dengan Angga, baru saya sadar jika stasiun TV competitor TVOne yakni MetroTV telah menayangkan proses evakuasi di pertigaan Ngrangkah. Produsernya Angga sampai mengancam melakukan pemecatan jika tidak memperoleh rekaman proses evakuasi. Atas dasar inilah saya memutuskan untuk membantu membuka akses operasi evakuasi Mbah Maridjan. Belakangan TVOne memang mendapatkan gambar eksklusif proses evakuasi Mbah Maridjan. Itu saya lakukan tanpa koordinasi dengan teman-teman, maafkan saya teman…
***

Tepat pukul 04.00 wib team kembali bergerak kembali keatas, 2 SRU langsung bergerak sesuai dengan scenario yang ditetapkan. SRU 1 menuju rumah mbah Maridjan sempat menemukan 1 jenazah yang berhasil diidentifikasi yaitu Narudi, putra Lik Udi. SRU ini terus bergegas, menuju satu titik yang berhasil kita identifikasi merupakan titik duga keberadaan simbah.

Akhirnya tepat pukul 05.05 wib SRU 1 berhasil menemukan Mbah Maridjan dalam posisi sujud menghadap barat selatan di sebuah kamar samping dapur kediaman beliau. Jenazahnya tertutup asbes dan tertindih sebuah batang kayu. Spontan para team penyelamat bersholawatan, ada yang menitikan air mata, ada yang membersihkan badan dan kepala beliau dari abu vulkanik Gunung Merapi.

Jenazahnya kita masukkan ke kantong mayat yang sudah dipersiapkan, kemudian kita beri tanda huruf capital, M dan diberi kotak bagian luarnya. Jenazah dibawa dengan mobil milik anggota SAR DIY, Pun-Pun menuju Rumah Sakit Sardjito dengan ditemani Irfan dan Jack yang juga anggota SAR DIY. Selamat jalan simbah… tak terasa sudah satu tahun yang lalu kejadian telah berlangsung.

Oleh: Sipey, anggota Kapalasastra UGM, pernah mengurusi Sekber PPA DIY, SAR DIY, Social Worker.

Rabu, Oktober 26, 2011

Mahasiswa Indonesia Diusulkan Jalani Wajib Militer

Lukman Edy
Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) MPR RI Lukman Edy mengusulkan agar digalakan pendidikan wajib militer di kalangan mahasiswa. Dengan begitu, jiwa dan rasa nasionalisme yang akhir-akhir ini menurun dapat ditingkatkan.

Lukman menjelaskan, mahasiswa, sebagai sebuah kelompok strategis yang selalu menempatkan diri sebagai agen perubahan perlu wajib militer sebagai pengganti OSPEK yang tidak jelas tujuan dan hasilnya.

"Di tengah-tengah derasnya pengaruh liberalisme dan paham-paham multinasional yang dapat merusak ke Indonesiaan kita yang beragam ini," kata Lukman di Gedung MPR RI, Jakarta, Selasa (25/10).

Lukman menekankan, wajib militer di kalangan mahasiswa, tidak bertentangan dengan konstitusi. Sebab UUD 1945 sendiri mengamanahkan sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta, yang menempatkan rakyat sebagai kekuatan pendukung untuk menjaga integritas dan keutuhan NKRI.

Ia menambahkan, upaya internalisasi ideologi kebangsaan harus dilakukan dengan berbagai bentuk dan massif. Di sektor pendidikan misalnya, sudah selayaknya ada kurikulum tentang ideologi kebangsaan. Sementara, di kalangan aparatur negara, ideologi Pancasila harus dijadikan program pengembangan kapasitas birokrasi. Sedangkan di partai politik, empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika) harus menjadi bagian tugas pendidikan politik

Ia melanjutkan, dari hasil survei yang dilakukan berbagai instansi, ada hal yang mengejutkan dimana banyak rakyat Indonesia yang anti-Pancasila. Ia menyebutkan, dari hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan 27% rakyat Indonesia merasa tidak memerlukan Pancasila. Bahkan, penelitian seorang profesor dari UIN Jakarta menyimpulkan 28% setuju dengan radikalisasi, dan sebuah lembaga kajian di Jakarta menyatakan 19% pemuda Indonesia menghendaki syariat Islam sebagai dasar negara.

"Angka sebesar ini seharusnya lampu kuning buat Indonesia, dan sekaligus seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah," kata Lukman.(Andhini)

NKRI Harga Mati

Garuda Pancasila dengan sesanti Bhinneka Tunggal Ika menjadi perekat bangsa Indonesia. (FOTO ANTARA News)
Jakarta (ANTARA News) - Jargon NKRI Harga Mati kerap ditemui di banyak tempat. Implementasinya di tataran politik dan ideologi kebangsaan harus dirumuskan secara pasti sebagaimana dinyatakan Ketua Fraksi PKB MPR RI, Lukman Edy, bahwa Indonesia tak bisa diubah menjadi bentuk lain seperti federal.

Kepada ANTARA News, Lukman Edy menyampaikan, pertanyaan tersebut muncul dari peserta karena peserta ToT 4 Pilar Kebangsaan, utamanya bentuk negara NKRI apakah perlu dipertahankan atau dibuka ruang untuk diubah menjadi bentuk yang lain yang disesuaikan dengan perkembangan zaman, misalnya menjadi negara federal.

"NKRI harus dipertahankan, selain karena kesejarahan NKRI yang kuat, merupakan amanah para bapak bangsa ketika memerdekakan Republik Indonesia. Jadi NKRI tak bisa diubah," kata Lukman Edy, Jakarta, Senin.

Ia menambahkan, Indonesia pernah mencoba mengubah bentuk negara Indonesia, namun gagal.

"Bentuk negara lain sudah pernah dicoba yang kemudian gagal dijalankan karena jauh dari karakter bangsa kita," kata mantan Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal itu.

Menurut mantan Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, NKRI memberikan optimisme dan keyakinan yang ideal untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial lebih cepat dibanding dengan bentuk negara yang lain.

Namun Edy juga menyampaikan bahwa upaya untuk mensejahterakan dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah tugas berat yang harus segera di laksnakan dengan serius, karena kalau terlambat bisa menimbulkan disintegrasi bangsa.

"10 tahun mendatang adalah masa yang krusial untuk semua komponen bangsa membuktikan keadilan sosial tersebut, kalau tidak terwujud maka akan ada sikap apatisme masyarakat terhadap kesepakatan bernegara kita," ujar Edy.

Diperkirakan, lima tahun kedepan rakyat masih beranggapan jika kesejahteraan dan keadilan sosial tidak tercapai, maka faktor pemimpin lah yang menjadi persoalan.

"Tetapi jika 10 tahun ke depan tetap kesejahteraan dan keadilan itu tidak tercapai, maka rakyat akan beranggapan sistem negara inilah yang salah, pada titik ini NKRI akan menjadi sangat rawan," prediksinya.

Dikatakannya, ToT 4 Pilar Kebangsaan yang dilaksanakan di Ambon, Maluku itu diselanggarakan selama 4 hari, mulai tanggal 17-21 Oktober 2011, dengan peserta seperti tokoh-tokoh agama, OKP, dan lembaga-lembaga pendidikan se Provinsi Maluku, sebanyak 100 orang. zul

Editor: Ade Marboen

Senin, Oktober 17, 2011

Pertahanan Nirmiliter

Pertahanan nirmiliter adalah peran serta rakyat dan segenap sumber daya nasional dalam pertahanan negara, baik sebagai Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung yang dipersiapkan untuk menghadapi ancaman militer maupun sebagai fungsi pertahanan sipil dalam menghadapi ancaman nirmiliter. Fungsi pertahanan nirmiliter yang diwujudkan dalam Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung merupakan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara Pasal 7 Ayat (2) dalam menghadapi ancaman militer.

Fungsi pertahanan sipil dalam menghadapi ancaman nirmiliter sebagaimana dimaksud UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara Pasal 7 Ayat (3) terdiri atas fungsi untuk penanganan bencana alam, operasi kemanusiaan, sosial budaya, ekonomi, psikologi pertahanan yang berkaitan dengan kesadaran bela negara, dan pengembangan teknologi. Fungsi-fungsi tersebut merupakan tanggung jawab instansi pemerintah di luar bidang pertahanan sesuai dengan jenis dan sifat ancaman yang dihadapi.

Dalam menghadapi ancaman nirmiliter, pengorganisasian pertahanan nirmiliter disusun ke dalam pertahanan sipil untuk mencegah dan menghadapi ancaman yang berdimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan teknologi. Dalam kerangka menghadapi ancaman yang berdimensi keselamatan umum, bentuk pertahanan sipil dilaksanakan melalui fungsi-fungsi keamanan, antara lain penanggulangan dampak bencana alam dan bencana yang ditimbulkan manusia, operasi kemanusiaan, SAR, wabah penyakit dan kelaparan, gangguan pada pembangkit tenaga listrik dan transportasi, serta aksi pemogokan. Pengorganisasian pertahanan sipil dalam kerangka pertahanan nirmiliter berbeda dengan struktur sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer. Pertahanan sipil sebagai bentuk pertahanan nirmiliter bersifat fungsional dan berada dalam lingkup kewenangan instansi pemerintah di luar bidang pertahanan (Lihat Gambar Berikut). 
Sumber : Doktrin Pertahanan Negara (Dephan)
Inti pertahanan nirmiliter adalah pertahanan melalui usaha tanpa menggunakan kekuatan senjata dengan pemberdayaan faktor-faktor ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan teknologi. Keterlibatan warga negara dalam pertahanan nirmiliter diwujudkan melalui profesi, pengetahuan dan keahlian, serta kecerdasan dalam pembangunan nasional dan dalam penyelenggaraan pertahanan negara, baik langsung maupun tidak langsung, untuk mencapai kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan, sehingga merupakan daya tangkal bangsa. Dalam penyelenggaraan fungsi pemerintahan, pertahanan nirmiliter berada dalam lingkup fungsi departemen/lembaga pemerintah non departemen (LPND) melalui penyelenggaraan pembangunan nasional yang dirancang dengan mengintegrasikan kepentingan kesejahteraan dan kepentingan pertahanan. Unsur utama dalam pertahanan nirmiliter adalah unsur pemerintah dan nonpemerintah dalam fungsi dan kapasitasnya memberdayakan sumber daya nasional.

Pertahanan nirmiliter tidak terbatas pada perwujudan daya tangkal bangsa melalui pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan. Dalam kondisi negara menghadapi agresi atau invasi dari negara lain yang mengancam NKRI, fungsi pertahanan nirmiliter berperan dalam upaya pertahanan sesuai dengan lingkup fungsinya masing-masing dalam Sistem Pertahanan Semesta. Pertahanan nirmiliter tampil untuk mendinamisasi segenap potensi dan kekuatan nasional untuk memperkuat upaya pertahanan secara militer. Pertahanan nirmiliter dalam hal ini melaksanakan langkah-langkah nirmiliter untuk memberikan tekanan politik melalui upaya diplomasi, diperkuat oleh pendinamisasian kekuatan ekonomi, keuangan dan moneter, sosial, psikologi, serta teknologi dan informasi untuk menggagalkan niat lawan. Langkah-langkah nirmiliter dikerahkan sebagai bentuk perlawanan pantang menyerah dalam mempertahankan kelangsungan bangsa dan negara.

Kerangka perang rakyat semesta diwujudkan dalam Perang gerilya dengan perlawanan bersenjata dan perlawanan tidak bersenjata sebagai satu kesatuan perjuangan. Perang gerilya dengan perlawanan fisik bersenjata dilaksanakan oleh pertahanan militer sebagai inti kekuatan dan diselenggarakan dalam unit-unit perlawanan dalam satuan kecil dan terbesar untuk menguras kekuatan lawan sampai akhirnya dapat melancarkan serangan yang menentukan untuk menghancurkan dan mengusir lawan dari bumi Indonesia. Perlawanan tidak bersenjata adalah bentuk perlawanan yang dilaksanakan dengan mendayagunakan faktor-faktor diplomasi, politik, ekonomi, sosial budaya, agama, teknologi, dan informasi.

Sumber : Dephan

Pertahanan Militer

Pertahanan militer bertumpu pada TNI sebagai Komponen Utama yang didukung oleh Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung yang dipersiapkan dan dikembangkan untuk menghadapi ancaman militer. Tentara Nasional Indonesia mendinamisasi pertahanan militer sebagai lapis utama pertahanan negara untuk melaksanakan OMP dan OMSP. Pertahanan militer dalam melaksanakan OMP didasarkan atas keputusan politik melalui pengerahan kekuatan oleh Presiden. Dalam melaksanakan OMP, TNI mengembangkan strategi militer sesuai dengan hakikat ancaman yang dihadapi dengan memperhatikan kondisi geografi Indonesia serta sumber daya pertahanan yang tersedia. OMP yang diselenggarakan TNI dikemas dalam keterpaduan tiga matra (Tri Matra Terpadu). Dalam menyelenggarakan OMP, TNI menggunakan segenap komponen pertahanan negara yang terdiri atas Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung. Dalam kerangka pertahanan militer, TNI menyelenggarakan perencanaan strategi dan operasi militer, membina profesionalisme organisasi dan kekuatan TNI, serta memelihara kesiapsiagaan operasional.
Tentara Nasionan Indonesia
Gelar kekuatan TNI merupakan bagian vital dari upaya pertahanan militer, yang pelaksanaannya didasarkan pada pertahanan sebagai fungsi pemerintahan negara yang tidak diotonomikan. Dalam rangka itu, TNI digelar di seluruh wilayah Indonesia secara kenyal berdasarkan strategi pertahanan. Gelar kekuatan TNI di daerah tidak berdasarkan struktur dan gelar instansi pemerintah, tetapi didasarkan pada strategi pertahanan dan strategi militer untuk kepentingan penangkalan dan pelaksanaan operasi militer. Oleh karena itu, kekuatan TNI yang digelar di daerah bukan merupakan kekuatan organik daerah yang bersangkutan.

Dalam gelar kekuatan TNI tidak mengenal kekuatan organik dan kekuatan non-organik. Kekuatan TNI adalah organik di seluruh wilayah Indonesia, bukan pada suatu daerah berdasarkan batas wilayah administratif sebagaimana ditentukan dalam Otonomi Daerah. Gelar kekuatan TNI dilaksanakan oleh TNI pada masa damai dan pada keadaan perang. Gelar kekuatan TNI diselenggarakan berdasarkan strategi pertahanan negara dan kekenyalan pelaksanaan strategi militer. Gelar kekuatan TNI pada masa damai ditujukan untuk mewujudkan daya tangkal pertahanan, diproyeksikan ke dalam gelar secara Tri Matra Terpadu. Pertahanan negara adalah fungsi pemerintahan yang tidak diotonomikan. Maka, wilayah gelar kekuatan TNI adalah seluruh wilayah Indonesia.

Penggunaan Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung disesuaikan dengan bobot ancaman yang dihadapi, dengan memegang teguh prinsip-prinsip pembatasan penggunaan masyarakat sipil. Komponen Cadangan disiapkan guna memperbesar dan memperkuat Komponen Utama. Status Komponen Cadangan berubah menjadi kombatan setelah dimobilisasi, dan statusnya sebagai kombatan berakhir melalui demobilisasi.

Komponen Pendukung dengan unsur-unsur yang terdiri atas warga negara, sumber daya alam, sumber daya buatan, serta sarana dan prasarana nasional didayagunakan untuk meningkatkan kemampuan Komponen Utama dan Komponen Cadangan. Pendayagunaan Komponen Pendukung tersebut dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung tergantung kondisi, urgensi kebutuhan, serta fungsi hakiki unsur Komponen Pendukung yang bersangkutan. Komponen Pendukung yang tidak dimobilisasikan menjadi kombatan. Status dan perlakuannya diatur berdasarkan ketentuan mengenai hak-hak sipil.

Sumber : Dephan

Minggu, Oktober 16, 2011

Sistem Pertahanan Negara

Pertahanan Negara Indonesia diselenggarakan dalam suatu Sistem Pertahanan Semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, serta segenap sumber daya nasional yang dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut. Sistem Pertahanan Semesta memadukan pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter yang saling menyokong dalam menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman. Sistem Pertahanan Semesta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah melalui usaha membangun kekuatan dan kemampuan pertahanan yang kuat dan disegani baik kawan maupun calon lawan. Dipersiapkan secara dini berarti Sistem Pertahanan Semesta dibangun secara terus-menerus sejak masa damai sampai masa perang.

Pada masa damai, Sistem Pertahanan Semesta dibangun untuk menghasilkan daya tangkal yang tangguh dengan menutup setiap ruang kelemahan yang dapat menjadi titik lemah. Pembangunan Sistem Pertahanan Semesta pada masa damai dilaksanakan dalam kerangka pembangunan nasional yang tertuang dalam program pemerintah yang berlaku secara nasional.

Pada masa perang atau pada kondisi negara menghadapi ancaman nyata, pemerintah mendayagunakan Sistem Pertahanan Negara sesuai dengan hakikat ancaman atau tantangan yang dihadapi. Sistem Pertahanan Negara dalam menghadapi ancaman militer memadukan pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter dalam susunan Komponen Utama Pertahanan, yaitu TNI, serta Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung yang terdiri atas warga negara, sumber daya alam, sumber daya buatan, serta sarana dan prasarana nasional. Komponen Cadangan dibentuk dari sumber daya nasional yang dipersiapkan untuk dikerahkan melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat kekuatan dan kemampuan TNI. Mobilisasi merupakan tindakan politik dari pemerintah melalui pernyataan Presiden untuk mengerahkan dan menggunakan secara serentak sumber daya nasional serta sarana dan prasarana nasional sebagai kekuatan pertahanan. Komponen Pendukung adalah sumber daya nasional selain Komponen Utama dan Komponen Cadangan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan Komponen Utama dan Komponen Cadangan. Komponen Pendukung dikelompokkan dalam lima suku komponen pendukung, yakni Garda Bangsa, tenaga ahli sesuai dengan profesi dan bidang keahliannya, warga negara lainnya, industri nasional, sarana dan prasarana, serta sumber daya buatan dan sumber daya alam yang dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan.

Garda Bangsa adalah salah satu unsur utama dalam Komponen Pendukung, yang terdiri atas warga negara yang memiliki kecakapan dan keterampilan khusus, jiwa juang, kedisiplinan, serta berada dalam satu garis komando yang sewaktu-waktu dapat dikerahkan untuk membantu tugas-tugas pertahanan pada saat negara membutuhkan Komponen Pendukung. Unsur-unsur Garda Bangsa berasal dari unsur Kepolisian Negara, Satuan Polisi Pamong Praja yang dimiliki Pemerintah Daerah (Pemda), unsur Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang dikoordinir oleh Pemda, Resimen Mahasiswa yang pembinaannya di bawah perguruan tinggi, Alumni Resimen Mahasiswa, serta organisasi kepemudaan. Posisi Polisi Negara ditempatkan dalam Komponen Pendukung didasarkan pada statusnya sebagai alat negara yang lingkup fungsi dan pendekatan dalam pelaksanaan fungsinya berbeda dengan tentara. Polisi Negara adalah warga negara yang memiliki kualifikasi dan keterampilan tinggi seperti tentara, namun status dan perlakuannya sebagai masyarakat sipil sehingga tidak dapat secara serta-merta ditransfer sebagai Komponen Utama. Untuk menjadi Komponen Utama, Polisi Negara terlebih dahulu menanggalkan status kepolisiannya, dan selanjutnya mengikuti tahapan rekrutmen sesuai dengan mekanisme untuk menjadi calon prajurit TNI. Dalam Sistem Pertahanan Semesta, posisi yang paling tepat bagi Polisi adalah berada dalam Komponen Pendukung dan, karena keterampilannya, ditempatkan dalam suku Garda Bangsa. Visualisasi komponen pertahanan negara tampak dalam gambar berikut ini.

Sumber : Doktrin Pertahanan Negara (Dephan)
Sumber : Dotkrin Pertahanan Negara (Dephan)